Rabu, 15 Mei 2013


KISAH jENAZAH ANAK SHOLEH YANG BERBAU HARUM 



Berita dari Alam kubur kali ini mengisahkan tentang nikmatnya alam kubur yang diterima oleh anak yang saleh. 
Kisahnya. Semasa hidupnya, seorang anak yang bernama Hasan bin Abdullah dikenal sebagai anak yang saleh.

Subhanallah...
Setelah berpuluh-puluh tahun ia mati dan dimakamkan, jasadnya masih terlihat utuh dan berbau harum. Kisah ini terjadi di daerah Unaizah, Arab Saudi. Saat itu, di tepi batas kota akan dibangun benteng batas wilayah Unaizah. Kebetulan lokasi itu dulunya merupakan kuburan warga setempat yang lama tak dipakai lagi. Berdasarkan persetujuan raja setempat, lokasi kuburan itu akhirnya dibongkar.

Maka mulailah para pekerja memindahkan satu persatu jenazah di kuburan itu ke lokasi lain yang sudah disediakan. Namun, hingga pada giliran makam yang ada di sebelah pojok, penggali kuburan mengalami kesulitan. Tanah di makam itu terasa keras untuk digali. Butuh sekitar satu jam untuk membobfkar kuburan tua itu.
"Tanahnya lebih keras dari tanah yang lain di kuburan ini, kenapa bisa demikian ya," kata salah seorang penggali. 

Kisah Bakti Anak Sholeh Mengundang Perhatian Penduduk Langit

Pada zaman Nabi Muhammad saw, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, bidang dadanya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, wajahnya selalu melihat pada tempat sujudnya dan tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya. Pemuda ini tidak pernah lalai dari membaca al-Quran dan sentiasa menangis. Pakaiannya hanya dua helai sahaja, sudah terlalu lusuh untuk dipakai sehinggakan tidak ada orang yang menghiraukannya. Beliau tidak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit. Pemuda ini, jika bersumpah demi Allah pasti terkabul. Dia adalah Uwais al-Qarni. Beliau tidak dikenali dan miskin malah banyak orang yang suka mentertawakannya, mengejek-ejeknya, dan menuduhnya sebagai pencuris erta bermacam lagi penghinaan dilemparkan kepadanya.Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tidak mempunyai saudara mara kecuali hanya ibunya yang telah tua dan lumpuh. Untuk menyara kehidupan sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk menyara kehidupan harian bersama ibunya.Jika ada wang lebihan, beliau akan membantu jiran tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya. Walaupun dalam keadaan serba payah, beliau tidak pernah lalai dalam mengerjakan ibadahnya, sedikit pun tidak berkurang. Sepanjang hidupnya, beliau melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya. Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad saw yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Peraturan-peraturan yang terdapat di dalam agama Islam sangat menarik hati Uwais dan apabila seruan Islam datang di negeri Yaman, beliau segera memeluknya Banyak rakan-rakannya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengar secara langsung dakwah Nabi Muhammad saw. 

Kamis, 09 Mei 2013

Kisah Terbaik dalam Al-Quran: Nabi Yusuf AS

 Ilustrasi (inet)

 “Alif, laam, raa. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al Quran) yang nyata (dari Allah). Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui. (Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta’bir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Yusuf; 1-6)

Kisah Nabi Yusuf AS diabadikan Allah dalam satu surat khusus dalam Al-Qur’an yang juga bernama Surat Yusuf. Kisah ini merupakan kisah terbaik dalam Al-Qur’an. Kisah Nabi Yusuf merupakan kisah terpanjang di Qur’an yang diceritakan secara berurutan dan dalam satu surat penuh. Ceritanya sangat manusiawi, artinya sangat mungkin terjadi di kehidupan saat ini dan bisa menjadi teladan bagi kita yang hidup di zaman sekarang. Kisah ini berujung pada akhir yang bahagia dan dari sana kita dapat mengambil nilai penting yaitu bahwa setiap perubahan tidak selalu harus melalui cara peperangan. Perubahan bisa dilakukan dengan mengubah suatu sistem dari dalam. Itulah alasan-alasan mengapa kisah ini menjadi kisah terbaik.
Sebuah kisah yang memberikan banyak nilai bagi kita terutama untuk menjadi pedoman dalam melakukan perubahan. Kita bisa mengambil kata kunci dari kisah ini bahwa ketika kita hendak mengubah suatu sistem dari dalam maka kita harus memiliki kredibilitas kepada penguasa saat itu dengan cara meningkatkan kapabilitas dan kapasitas intelektual dan moral. Mudahnya, kita harus menjadi tangan kanan penguasa. Bukan tunduk kepadanya tetapi kita tunjukkan bahwa diri kita pantas untuk menjadi seorang pemimpin yang adil.
Prinsip dalam mengubah sistem dari dalam ialah kita harus memiliki perencanaan jangka panjang yang jelas. Pada dasarnya reformasi dilakukan tidak serta merta seperti revolusi. Ia membutuhkan periode waktu yang bisa jadi melibatkan banyak generasi. Oleh karena itu diperlukan adanya mentor agar proses pewarisan antar generasi berjalan dengan baik. Rencana jangka panjang itu hendaknya disusun secara detail sesuai timeline. Rencana tersebutlah yang menjadi bingkai kita dalam menjalani proses reformasi.
Ketika kita hendak melakukan perubahan dari dalam maka kita harus mempersiapkan pula orang-orang yang terbaik. Bukan hanya terbaik, tapi terbaik dari yang terbaik. Hal ini penting mengingat perubahan ini dilakukan dalam jangka panjang dan melibatkan banyak orang sehingga dalam proses pewarisannya harus benar-benar murni secara prinsip dan pemahaman agar antar generasi tidak saling miss dan alur perubahan itu tetap terjaga.
Sosok yang dibentuk ini juga memiliki jiwa petarung yang handal. Ia harus mampu menangkal segala perlawanan dari pihak-pihak yang memusuhinya. Wajar saja, karena setiap orang yang hendak membawa perubahan dalam suatu sistem pada awalnya pasti akan mendapat perlawanan dari pihak oposisi. Seperti pada kisah Yusuf AS beliau adalah seorang keturunan Nabi. Ayahnya, kakeknya, buyutnya pun seorang Nabi. Ia oleh Allah telah dirancang untuk membawa perubahan bagi Bani Israil. Namun, bagi ke sebelas saudaranya Yusuf dianggap mengancam eksistensi mereka di hadapan ayahnya. Oleh karenanya mereka hendak menyingkirkan Yusuf dari dunia persilatan. Yusuf pun dibuang ke dasar sumur dan ia ditemukan oleh pedagang yang melewati sumur itu. Di sini Yusuf mengalami sebuah tantangan besar. Ia dimusuhi oleh saudara-saudaranya sendiri. Bahkan ketika itu ia masih kecil, masih belum paham apa-apa.
Kemudian Yusuf menjadi barang dagangan yang ujungnya, ia dibeli oleh seorang raja. Yusuf pun tumbuh dewasa, ia menjadi pemuda yang sangat tampan. Sampai suatu ketika ia difitnah oleh istri raja dan dijebloskan ke penjara. Inilah bentuk penempaan baru bagi seorang agent of change. Ia akan mengalami pergulatan dengan berbagai kenyataan sosial dan politik yang berat, kompleks, kompetitif, dan penuh konflik. Yusuf difitnah, padahal istri rajalah yang menggodanya. Ia masuk penjara yang kemudian di sanalah justru titik kebangkitan itu muncul. Ia bertemu dua orang yang bermimpi aneh. Kemudian Yusuf menerangkan kepada mereka arti mimpi itu dengan mengambil janji bahwa ketika mereka telah keluar nanti mereka akan memberitahu raja bahwa dirinya tidak bersalah. Setelah sekian lama Yusuf menunggu akhirnya ia dibebaskan karena informasi dari salah satu orang tadi yang memberitahu raja bahwa Yusuf mampu menakwilkan mimpi sang raja. Dan inilah sikap Yusuf. Ia tidak serta merta menerima putusan raja. Ia ingin memastikan bahwa dirinya tidak bersalah dengan meminta pada raja untuk mengumumkan kebenaran tentang fitnah yang menimpanya. Ia ingin kebenaran itu terungkap sejelas-jelasnya. Maka raja pun melakukannya. Nah, inilah semestinya sikap dari seorang pembawa perubahan. Ketika ia dijatuhkan, ia tidak menyerah. Ia tidak menerima begitu saja keputusan dari penguasa, tetapi ia harus mengklarifikasi dahulu tentang masalahnya. Ia memastikan dahulu bahwa namanya telah bersih dari tuduhan-tuduhan dan fitnah.
Sebagai seorang pemuda, hendaknya kita tetap menjadi kaum yang idealis, di manapun. Ketika kita berinteraksi dengan birokrasi maka semestinya memiliki mental untuk mengubah kondisi di dalamnya. Maka ujian terbesar kaum reformis adalah harta, tahta, wanita. Kalau saja Yusuf tergoda dengan istri raja, maka berakhirlah kisah indah itu. Jika Yusuf begitu saja menerima pembebasan dan permintaan Raja untuk menakwilkan mimpi, maka selesailah tugas mulianya. Kita harus meneladani sikap-sikap tersebut. Dalam mengatasi ujian-ujian itu hendaknya kita memperkuat rasa takut kita pada Allah, meningkatkan sikap amanah dan tanggungjawab terhadap segala aktivitas kita, dan sadar akan resiko dari setiap keputusan kita. Selain itu, kita harus memelihara konsistensi sikap dan misi perjuangan ini dalam kondisi apapun.
Jangan takut untuk mempertahankan objektivitas dan kebenaran. Kebenaran menjadi satu-satunya posisi tawar kita dengan kekuasaan. Tujuan masuknya kita ke sistem bukan untuk ‘menjual’ kebenaran kepada penguasa, tapi untuk mengungkapkan kebenaran dengan sebenar-benarnya…
“Berani karena benar, takut karena salah…”

Kisah Nabi Muhammad SAW Menjelang Ajal

Betapa mulia dan indahnya akhlak baginda Ya Rasulullah SAW Mengingatkan kita sewaktu sakratul maut.
'Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah,
"Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku".

Rabu, 08 Mei 2013

Durhaka kepada Orang Tua karena Istri

 durhaka kepada orang tua karena istri 

 

Durhaka kepada Orang Tua karena Istri – Ayahku meninggal ketika aku masih kecil. Tinggal ibuku yang selalu merawatku… Beliau bekerja sebagai pembantu rumah tangga, sehingga mampu membiayai hidupku. Aku anak satu-satunya. Beliau memasukkanku ke lembaga pendidikan, sampai aku menyelesaikan perguruan tinggi. Sampai titik ini, aku masih menjadi anak yang berbakti  kepadanya.
Tiba waktunya aku harus melanjutkan kuliah di luar negeri. Keberangkatanku diiringi dengan pesan ibuku sambil menetaskan air matanya, “Catat baik-baik di lubuk hatimu wahai anakkku, jangan sampai kamu tidak memberi kabar.. sering kirim surat, sehingga saya bisa merasa tenang dengan keadaan baikmu.”